Thursday, July 29, 2010

Nabaz's Property

Our life, Our Passion & Our Dreams

Ironi antara Penjual Pisang dengan Bank Century

Posted by dina On September - 11 - 2009

Inilah fragmen dari sebuah kejadian di Jakarta, sebuah kota yang penuh
ironi. Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur tepat di
seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus. Banyak orang berseliweran di
sana dengan dengkul ataupun berkendara mobil seharga ratusan juta hingga
miliar rupiah. Tetapi, tak banyak yang peduli. Menoleh pun tidak.
Tangan kanan lelaki ringkih itu sempat menahan tubuhnya, menyelamatkan
mukanya tidak terjerembab. Tangan kirinya erat memegang pikulan di pundaknya
agar keranjangnya tak terguling. Dia sepertinya kelelahan. Mukanya pucat
pasi. Napasnya memburu, Senin-Kamis. Matanya mengernyit seperti menahan rasa
pusing.
Setelah beberapa saat beristirahat, dia pun berdiri dan berjalan lagi. Dua
keranjang rotan terisi penuh pisang pun bergayut turun naik mengikuti napas
dan langkah kaki kakek tua itu.
Namun, tidak sampai 500 meter, saat melintas di Jalan Metro Pondok Indah, di
depan rumah megah bergaya mediteranian seharga miliaran rupiah, dia pun
kembali tersungkur. Dia kembali beristirahat sejenak. Tidak sampai lima
menit, dia sudah bangkit lagi. Tertatih, dia kembali memikul dua keranjang
pisang jualannya.
Dengan langkah gontai, ia menyeberangi jalan dan masuk ke kompleks perumahan
mewah. Sesudah melewati sekitar lima blok, barulah dia bertemu pembeli.
Setelah itu, dia kembali lagi berkeliling.
Kakek tua itu bernama Ujang. Usianya 50 tahun. Tetapi, beban berat membuat
raut wajahnya lebih tua dari usianya. Bicaranya pun sudah pelo seperti
pernah terserang stroke.
Ujang memang pekerja ulet. Dia tinggal di Parung, sekitar 25 kilometer
pinggiran selatan Jakarta. Demi menyambung hidup, Ujang mengukur jalan
berjualan pisang sampai Jakarta. Panas terik tak mengalahkan semangatnya
untuk bekerja. Ibadah puasa pun tetap dijalaninya.
”Saya mah gak mau minta-minta. Saya lebih seneng jualan,” ucap Ujang.
Merenungi apa yang terjadi pada Ujang, terasa ironis bila dibandingkan
dengan kejatuhan Bank Century. Ketika Ujang terjatuh, meski rumah di sana
besar dan megah tak ada yang menawarkan berteduh. Meski ratusan bahkan
ribuan kendaraan berlalu-lalang di sana, mulai dari metromini butut sampai
mobil-mobil mewah seri terbaru, tidak ada juga yang memberikan tumpangan
membantu.
Sementara itu, uang negara yang dikucurkan untuk menyehatkan Bank Century
besarnya mencapai Rp 6,7 triliun dan kemudian hilang dimakan para bankir
jahat.
Negara yang seharusnya memberikan perlindungan juga belum bisa diharapkan.
Padahal, yang dibutuhkan Ujang sederhana. Bukan hanya BLT, bantuan langsung
tunai, tapi juga BLG, bantuan langsung gerobak.
Keuletan Ujang bisa mengingatkan semua, terutama para pejabat di negeri ini,
mulai dari Presiden, Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan,
Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pertanian, hingga Menteri Negara Urusan
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, untuk tidak terus terbuai dengan
angka-angka makro dan kemudian rajin beriklan tentang kesuksesan yang
menghabiskan dana miliaran rupiah.
Semua pejabat juga berlomba-lomba memberikan fasilitas kepada ”bos-bos”
besar dengan harapan mendapat bonus keuntungan. Sebaliknya, mereka menutup
mata, telinga, dan hati atas realitas bahwa masih banyak orang kecil di
negeri ini, Mereeka tak kunjung mendapat perlindungan.
penjual pisangInilah fragmen dari sebuah kejadian di Jakarta, sebuah kota yang penuh ironi. Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur tepat di seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus. Banyak orang berseliweran di sana dengan dengkul ataupun berkendara mobil seharga ratusan juta hingga miliar rupiah. Tetapi, tak banyak yang peduli. Menoleh pun tidak.
Tangan kanan lelaki ringkih itu sempat menahan tubuhnya, menyelamatkan
mukanya tidak terjerembab. Tangan kirinya erat memegang pikulan di pundaknya agar keranjangnya tak terguling. Dia sepertinya kelelahan. Mukanya pucat pasi. Napasnya memburu, Senin-Kamis. Matanya mengernyit seperti menahan rasa pusing.
Setelah beberapa saat beristirahat, dia pun berdiri dan berjalan lagi. Dua
keranjang rotan terisi penuh pisang pun bergayut turun naik mengikuti napas
dan langkah kaki kakek tua itu.
Namun, tidak sampai 500 meter, saat melintas di Jalan Metro Pondok Indah, di depan rumah megah bergaya mediteranian seharga miliaran rupiah, dia pun kembali tersungkur. Dia kembali beristirahat sejenak. Tidak sampai lima
menit, dia sudah bangkit lagi. Tertatih, dia kembali memikul dua keranjang
pisang jualannya.
Dengan langkah gontai, ia menyeberangi jalan dan masuk ke kompleks perumahan mewah. Sesudah melewati sekitar lima blok, barulah dia bertemu pembeli. Setelah itu, dia kembali lagi berkeliling.
Kakek tua itu bernama Ujang. Usianya 50 tahun. Tetapi, beban berat membuat raut wajahnya lebih tua dari usianya. Bicaranya pun sudah pelo seperti pernah terserang stroke.
Ujang memang pekerja ulet. Dia tinggal di Parung, sekitar 25 kilometer
pinggiran selatan Jakarta. Demi menyambung hidup, Ujang mengukur jalan
berjualan pisang sampai Jakarta. Panas terik tak mengalahkan semangatnya
untuk bekerja. Ibadah puasa pun tetap dijalaninya.
”Saya mah gak mau minta-minta. Saya lebih seneng jualan,” ucap Ujang.
Merenungi apa yang terjadi pada Ujang, terasa ironis bila dibandingkan
dengan kejatuhan Bank Century. Ketika Ujang terjatuh, meski rumah di sana
besar dan megah tak ada yang menawarkan berteduh. Meski ratusan bahkan
ribuan kendaraan berlalu-lalang di sana, mulai dari metromini butut sampai
mobil-mobil mewah seri terbaru, tidak ada juga yang memberikan tumpangan
membantu.
Sementara itu, uang negara yang dikucurkan untuk menyehatkan Bank Century besarnya mencapai Rp 6,7 triliun dan kemudian hilang dimakan para bankir jahat.
Negara yang seharusnya memberikan perlindungan juga belum bisa diharapkan. Padahal, yang dibutuhkan Ujang sederhana. Bukan hanya BLT, bantuan langsung tunai, tapi juga BLG, bantuan langsung gerobak.
Keuletan Ujang bisa mengingatkan semua, terutama para pejabat di negeri ini,
mulai dari Presiden, Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan,
Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pertanian, hingga Menteri Negara Urusan
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, untuk tidak terus terbuai dengan
angka-angka makro dan kemudian rajin beriklan tentang kesuksesan yang
menghabiskan dana miliaran rupiah.
Semua pejabat juga berlomba-lomba memberikan fasilitas kepada ”bos-bos”
besar dengan harapan mendapat bonus keuntungan. Sebaliknya, mereka menutup mata, telinga, dan hati atas realitas bahwa masih banyak orang kecil di negeri ini, Mereeka tak kunjung mendapat perlindungan.

Popularity: unranked [?]

Random Posts

1 Response

  1. basrul Said,

    Wuiiiiiih

    Posted on September 14th, 2009 at 4:31 am

Add A Comment