Siapa yang nggak pernah bercermin atau ngaca? Sadar gak, kalo kita ngaca, orang yang kita lihat dalam pantulan cermin itu adalah orang yang paling benar menurut kita?
Sebelum gw coba bahas mengenai sebuah kebenaran menurut sudut pandang gw, ada baiknya coba simak cerita ilustrasi berikut :
Ada seorang Bapak setengah baya yang hidup sebagai penjual buah-buahan di pengkolan kampung di Jakarta. Sebutlah Pak Juber. Kondisi keuangan keluarga Pak Juber memang sangat pas-pasan. Pak Juber dikenal sebagai orang yang sangat ulet bekerja, rajin ibadah serta sayang sama keluarga. Ia pun bertanggung jawab dan suka membantu tetangga. Kebetulan saat ini istri Pak Juber ini, Bu Rekmy sedang mengandung 8 bulan lebih. Yaaah bisa dikatakan hampir mendekati hari2 persalinan anaknya yang ke-3.
Nah ketika sampai hari dimana istrinya sudah harus melahirkan anaknya yang ke-3 ini. Di rumah sakit, Dokter yang mengurus Bu Rekmy memberitahukan bahwa proses persalinan harus dengan operasi Caesar, dikarenakan janin di dalam kandungan terlilit usus. Yang lebih mengagetkan, diperkirakan biaya operasi tersebut mencapai 7 juta rupiah. Tapi operasi harus dijalankan, istri dan anaknya harus terselamatkan. Life must go on.
Pak Juber bingung setengah mati memikirkan darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Saudaranya dikampung semua, tetangga tidak ada yang punya uang, harta benda tak ada yang bernilai. Ia stress hingga tak tau apa yang harus dilakukan.
Keesokan harinya ketika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Di sebuah komplek, didepan sebuah rumah mewah yang gerbangnya terbuka, ia melihat sebuah sepeda motor terparkir dengan kunci yang tetap tergantung di stangnya. Tanpa pikir panjang timbullah pemikiran untuk mencuri motor tersebut. Ia beranggapan, “Orang kaya ini, dicuri 1 motornya , dia gak bakalan miskin kan?. Lagian saya bener2 butuh duit buat biaya operasi istri saya”. Sialnya ketika ia sedang mendorong pelan-pelan motor tersebut keluar rumah, si yang punya motor melihatnya dan berteriak “MALIIIIING”. Sehingga seluruh orang komplek dan petugas keamanan menghampiri. Pak Juber habis dihakimi masa. Dipenjara dan seterusnya…….
Setiap orang selalu mempunyai alasan untuk dijadikan pembenaran sudut pandangnya. Gw gak akan bilang bahwa apa yang dilakukan Pak Juber pada ilustrasi di atas adalah tindakan yang benar. Kemudian, apakah kita juga harus mengesampingkan rasa kemanusiaan yang telah tuhan anugrahkan kepada kita yang notabene makhluk yang mempunyai hati nurani dengan menghakimi seorang Pak Juber sebagai seorang pencuri demi keselamatan anak dan istrinya ?
Life is a big drama. Seperti juga merujuk pada quotation yang pernah dilontarkan oleh Albert Einstein “Satu2-nya yang pasti di dunia ini adalah Ketidakpastian. Termasuk sebuah kebenaran yang sedang kita bahas disini. Terlepas dari benar atau salah tanggapan lo pada cerita ilustrasi di atas, gw coba ambil kesimpulan bahwa setiap orang mempunyai alasan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Minimal untuk dirinya sendiri. So, sudahkah kita menyertakan “kebenaran bagi orang lain” sebagai sebuah pengetahuan dalam mengambil segala keputusan dan berpikir positif ? Atau malah justru kita telah mendzolimi kebenaran dengan kakunya gaya berfikir kita yang hanya terpaku pada hal kita yakini saja tanpa memperdulikan juga keyakinan orang lain?
Popularity: unranked [?]

Add A Comment