Friday, September 3, 2010

Nabaz's Property

Our life, Our Passion & Our Dreams

Archive for the ‘St0ry wiTh m0raLs’ Category

Emas Dua Bersaudara

Posted by dina On January - 27 - 2010

Ketika California dilanda demam emas, tersebut kisah dua bersaudara yang menjual semua harta mereka untuk ikut mengadu nasib di wilayah yang baru dibuka tersebut. Mereka berhasil menemukan tempat yang bagus dan bekerja dengan keras untuk menemukan emas pertama mereka. Kelihatannya semua berjalan lancar sesuai rencana ketika mereka menemukan emas. Tetapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja, sumber emas mereka habis. Mereka berusaha menggali lebih dalam lagi, tetapi tetap tidak menemukan lagi biji emas. Putus asa dan menyerah, mereka memutuskan meninggalkan tempat tersebut. Mereka menjual tempat mereka, peralatan mereka, dan dengan sisa uang yang mereka miliki, naik kereta api meninggalkan daerah tersebut. Pemilik baru menyewa seorang insinyur untuk memeriksa struktur tanah. Insinyur meminta agar digali lebih dalam lagi. Sedikit lebih dalam. Tak lama kemudian, ditemukan sumber biji mas yang sangat banyak, lebih banyak dari yang pernah diimpikan kedua bersaudara tersebut. Hanya dengan sedikit ketekunan dan semangat pantang menyerah, kedua bersaudara tersebut mestinya bisa menjadi kaya raya. Kembali ke kita sendiri, bagaimana dengan ladang emas kita? Sudahkan kita cukup tekun menggalinya?

Popularity: 2% [?]

Stick at your own ways !

Posted by dina On October - 26 - 2009

own waySeseorang mulai berjualan ikan segar di pasar.
Ia memasang papan pengumuman bertuliskan: “DI SINI JUAL IKAN SEGAR.”

Tidak lama kemudian datang seorang pengunjung yang menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tuliskan kata ‘DI SINI’?
Bukankah orang sudah tahu kalau kau berjualan di sini, bukan di sana?”
“Benar juga,” pikir si penjual ikan,
lalu dihapusnya kata ‘DI SINI’ dan tinggallah “JUAL IKAN SEGAR”.

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau pakai ‘SEGAR’? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”"Benar juga,” pikir si penjual ikan,

 lalu dihapusnya kata ‘SEGAR’ dan tinggallah “JUAL IKAN”.

Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tulis kata ‘JUAL’? Bukankah semua orang sudah tahukalau ikan ini dijual, bukan dipamerkan?”
“Benar juga,” pikir si penjual ikan,
lalu dihapusnya kata ‘JUAL’ dan tinggallah “IKAN”.

Tidak lama kemudian datang pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, “Mengapa kau tulis kata ‘IKAN’? Bukankah semua orang sudah tahukalau ini ikan, bukan daging?”
“Benar juga,” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.

Pojok Renungan:

Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa

Popularity: unranked [?]

Indahnya cinta…

Posted by dina On October - 8 - 2009

nu yearPagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk,mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya.Saya merasa kasihan. 

Jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri. Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. 

Lelaki tua itu menjawab tidak. Dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer. Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.

Saya sangat terkejut dan berkata, Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi? Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia ‘kan?”.

Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan saya masih tetap merinding.

Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku.
Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi,yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagi saya pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: 

Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki .

“Wish we could love each other like that until we grow old together”

Popularity: unranked [?]

Tokoh dunia yang meninggal dalam keadaan miskin

Posted by basrul On September - 26 - 2009

Ironis memang, tapi inilah kenyataannya.  Beberapa tokoh yang dikenal di seluruh dunia di bawah ini meninggal dalam keadaan miskin. Phew…

Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran kita semua bahwa segala sesuatu tidak harus selalu di atas, tapi ada kalanya di bawar, karena hidup seperti roda yang terus berputar tentunya.

1. Christopher Columbus
http://www.humanities-interactive.org/newworld/columbus/400/ex020_01a.jpg
Mencapai kebesaran ketika tiba di benua baru, New World di tahun 1492. Tapi sesudah pelayarannya yang ke 3 ke Amerika, sponsornya, Raja Spanyol, tidak puas dengan kinerja Columbus sebagai gubernur di koloni baru tersebut dan membawanya pulang dengan di rantai. Dalam tahun2 terakhir hidupnya, penjelajah besar ini sering tak punya uang untuk membeli makanan. Ia meninggal di tahun 1506.

2. Thomas Jefferson
http://3.bp.blogspot.com/_1HM_-KHZ5K4/R038uHpn90I/AAAAAAAABd4/-kZYwkxA1Ak/s400/thomas-jefferson-picture.jpg
Ia, 2 kali menjadi presiden Amerika, dari 1801 sampai 1809 n penyusun naskah Declaration of Independence, bangkrut sesaat sebelum meninggal di tahun 1826. Ia memiliki tanah seluas 10 ribu are, tapi rekeningnya jadi merah karena mewarisi utang properti dari ayah mertuanya. Jefferson dipaksa menyerahkan semua kekayaan n propertinya untuk melunasi hutang. Sampai tongkat untuk jalan dengan pegangan emas dan jam tangan perak pun diambil sebagai pembayar utang.

3. Ulysses S. Grant
http://www.britannica.com/blogs/wp-content/uploads/2009/01/grant.jpg
Menjadi presiden Amerika dari 1869 sampai 1877, n sebagai jenderal terbesar Union, membantu memenangkan perang Utara – Selatan. Cara mengelola bisnis yang buruk sesudah ia meninggalkan kursi kepresidenan membuatnya bangkrut. Ketika meninggal di tahun 1885, ia bahkan juga kehilangan pedangnya karena dijadikan jaminan utang.

4. Wolfgang Amadeus Mozart
http://flyingteachers.net/blog/media/blogs/beg/Mozart.jpg
Musisi jenius yang lahir di tahun 1756 ini, menulis minuet pertamanya pada umur 5 tahun. Tapi para musisi yang bersaing dengannya membuatnya tak bisa mendapatkan pekerjaan n meraih sukses finansial. Ia meninggal di usia 35, dan dikubur di kuburan orang miskin tanpa batu nisan.

5. Vincent Van Gogh
http://theonlywordsallowed.files.wordpress.com/2008/12/vincent-van-gogh-t7514.jpg
lahir di tahun 1853, kini dianggap sebagai pelukis terbesar dunia dan karyanya banyak diburu kolektor lukisan. Tapi dia menderita penyakit jiwa n selalu hidup melarat. Ia pernah menembak dirinya karena putus asa. Ketika meninggal di tahun 1890, dia sama sekali tidak dikenal n seumur hidupnya hanya menjual satu lukisan. erin’s world.

Popularity: unranked [?]

Ironi antara Penjual Pisang dengan Bank Century

Posted by dina On September - 11 - 2009

Inilah fragmen dari sebuah kejadian di Jakarta, sebuah kota yang penuh
ironi. Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur tepat di
seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus. Banyak orang berseliweran di
sana dengan dengkul ataupun berkendara mobil seharga ratusan juta hingga
miliar rupiah. Tetapi, tak banyak yang peduli. Menoleh pun tidak.
Tangan kanan lelaki ringkih itu sempat menahan tubuhnya, menyelamatkan
mukanya tidak terjerembab. Tangan kirinya erat memegang pikulan di pundaknya
agar keranjangnya tak terguling. Dia sepertinya kelelahan. Mukanya pucat
pasi. Napasnya memburu, Senin-Kamis. Matanya mengernyit seperti menahan rasa
pusing.
Setelah beberapa saat beristirahat, dia pun berdiri dan berjalan lagi. Dua
keranjang rotan terisi penuh pisang pun bergayut turun naik mengikuti napas
dan langkah kaki kakek tua itu.
Namun, tidak sampai 500 meter, saat melintas di Jalan Metro Pondok Indah, di
depan rumah megah bergaya mediteranian seharga miliaran rupiah, dia pun
kembali tersungkur. Dia kembali beristirahat sejenak. Tidak sampai lima
menit, dia sudah bangkit lagi. Tertatih, dia kembali memikul dua keranjang
pisang jualannya.
Dengan langkah gontai, ia menyeberangi jalan dan masuk ke kompleks perumahan
mewah. Sesudah melewati sekitar lima blok, barulah dia bertemu pembeli.
Setelah itu, dia kembali lagi berkeliling.
Kakek tua itu bernama Ujang. Usianya 50 tahun. Tetapi, beban berat membuat
raut wajahnya lebih tua dari usianya. Bicaranya pun sudah pelo seperti
pernah terserang stroke.
Ujang memang pekerja ulet. Dia tinggal di Parung, sekitar 25 kilometer
pinggiran selatan Jakarta. Demi menyambung hidup, Ujang mengukur jalan
berjualan pisang sampai Jakarta. Panas terik tak mengalahkan semangatnya
untuk bekerja. Ibadah puasa pun tetap dijalaninya.
”Saya mah gak mau minta-minta. Saya lebih seneng jualan,” ucap Ujang.
Merenungi apa yang terjadi pada Ujang, terasa ironis bila dibandingkan
dengan kejatuhan Bank Century. Ketika Ujang terjatuh, meski rumah di sana
besar dan megah tak ada yang menawarkan berteduh. Meski ratusan bahkan
ribuan kendaraan berlalu-lalang di sana, mulai dari metromini butut sampai
mobil-mobil mewah seri terbaru, tidak ada juga yang memberikan tumpangan
membantu.
Sementara itu, uang negara yang dikucurkan untuk menyehatkan Bank Century
besarnya mencapai Rp 6,7 triliun dan kemudian hilang dimakan para bankir
jahat.
Negara yang seharusnya memberikan perlindungan juga belum bisa diharapkan.
Padahal, yang dibutuhkan Ujang sederhana. Bukan hanya BLT, bantuan langsung
tunai, tapi juga BLG, bantuan langsung gerobak.
Keuletan Ujang bisa mengingatkan semua, terutama para pejabat di negeri ini,
mulai dari Presiden, Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan,
Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pertanian, hingga Menteri Negara Urusan
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, untuk tidak terus terbuai dengan
angka-angka makro dan kemudian rajin beriklan tentang kesuksesan yang
menghabiskan dana miliaran rupiah.
Semua pejabat juga berlomba-lomba memberikan fasilitas kepada ”bos-bos”
besar dengan harapan mendapat bonus keuntungan. Sebaliknya, mereka menutup
mata, telinga, dan hati atas realitas bahwa masih banyak orang kecil di
negeri ini, Mereeka tak kunjung mendapat perlindungan.
penjual pisangInilah fragmen dari sebuah kejadian di Jakarta, sebuah kota yang penuh ironi. Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur tepat di seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus. Banyak orang berseliweran di sana dengan dengkul ataupun berkendara mobil seharga ratusan juta hingga miliar rupiah. Tetapi, tak banyak yang peduli. Menoleh pun tidak.
Tangan kanan lelaki ringkih itu sempat menahan tubuhnya, menyelamatkan
mukanya tidak terjerembab. Tangan kirinya erat memegang pikulan di pundaknya agar keranjangnya tak terguling. Dia sepertinya kelelahan. Mukanya pucat pasi. Napasnya memburu, Senin-Kamis. Matanya mengernyit seperti menahan rasa pusing.
Setelah beberapa saat beristirahat, dia pun berdiri dan berjalan lagi. Dua
keranjang rotan terisi penuh pisang pun bergayut turun naik mengikuti napas
dan langkah kaki kakek tua itu.
Namun, tidak sampai 500 meter, saat melintas di Jalan Metro Pondok Indah, di depan rumah megah bergaya mediteranian seharga miliaran rupiah, dia pun kembali tersungkur. Dia kembali beristirahat sejenak. Tidak sampai lima
menit, dia sudah bangkit lagi. Tertatih, dia kembali memikul dua keranjang
pisang jualannya.
Dengan langkah gontai, ia menyeberangi jalan dan masuk ke kompleks perumahan mewah. Sesudah melewati sekitar lima blok, barulah dia bertemu pembeli. Setelah itu, dia kembali lagi berkeliling.
Kakek tua itu bernama Ujang. Usianya 50 tahun. Tetapi, beban berat membuat raut wajahnya lebih tua dari usianya. Bicaranya pun sudah pelo seperti pernah terserang stroke.
Ujang memang pekerja ulet. Dia tinggal di Parung, sekitar 25 kilometer
pinggiran selatan Jakarta. Demi menyambung hidup, Ujang mengukur jalan
berjualan pisang sampai Jakarta. Panas terik tak mengalahkan semangatnya
untuk bekerja. Ibadah puasa pun tetap dijalaninya.
”Saya mah gak mau minta-minta. Saya lebih seneng jualan,” ucap Ujang.
Merenungi apa yang terjadi pada Ujang, terasa ironis bila dibandingkan
dengan kejatuhan Bank Century. Ketika Ujang terjatuh, meski rumah di sana
besar dan megah tak ada yang menawarkan berteduh. Meski ratusan bahkan
ribuan kendaraan berlalu-lalang di sana, mulai dari metromini butut sampai
mobil-mobil mewah seri terbaru, tidak ada juga yang memberikan tumpangan
membantu.
Sementara itu, uang negara yang dikucurkan untuk menyehatkan Bank Century besarnya mencapai Rp 6,7 triliun dan kemudian hilang dimakan para bankir jahat.
Negara yang seharusnya memberikan perlindungan juga belum bisa diharapkan. Padahal, yang dibutuhkan Ujang sederhana. Bukan hanya BLT, bantuan langsung tunai, tapi juga BLG, bantuan langsung gerobak.
Keuletan Ujang bisa mengingatkan semua, terutama para pejabat di negeri ini,
mulai dari Presiden, Gubernur BI, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan,
Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pertanian, hingga Menteri Negara Urusan
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, untuk tidak terus terbuai dengan
angka-angka makro dan kemudian rajin beriklan tentang kesuksesan yang
menghabiskan dana miliaran rupiah.
Semua pejabat juga berlomba-lomba memberikan fasilitas kepada ”bos-bos”
besar dengan harapan mendapat bonus keuntungan. Sebaliknya, mereka menutup mata, telinga, dan hati atas realitas bahwa masih banyak orang kecil di negeri ini, Mereeka tak kunjung mendapat perlindungan.

Popularity: unranked [?]

The Last Lecture

Posted by dina On September - 1 - 2009

randy-pausch Randy Pausch, adalah seorang profesor ilmu komputer di Carnegie Mellon. Lantas, apa hebatnya Randy? Randy divonis terkena kanker pankreas, dan waktunya bahkan tidak lama lagi, dokter bahkan mengatakan kalau waktunya mungkin hanya tinggal hitungan bulan. Ada banyak orang yang juga terkena kanker pankreas. Tetapi, apa yang anda lakukan saat anda berada dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan dalam hidup anda? Apa yang dilakukan untuk membalik situasi itu bukan hanya menjadi lebih baik, tetapi juga menjadi lebih berguna untuk anda, dan untuk orang lain. Itulah yang dilakukan oleh Randy, dan itulah hebatnya Randy.

Adalah sebuah kebiasaan di Carnegie Mellon (dan banyak universitas lain tentunya) bagi para profesornya menyampaikan kuliah terakhir mereka. Kali ini giliran Randy. Saat kuliah terakhir, para peserta kuliah diajak untuk memikirkan pertanyaan yang sama, yaitu “kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?”

Kuliah terakhir yang disampaikan Randy tidak bicara tentang kematian, sebaliknya justru tentang kehidupan dan harapan, tentang MIMPI MASA KECIL. What is your childhood dream? then, make it real…

Kuliah terakhir Randy berjudul “Really Achieving Your Childhood Dream” . Inilah yang kemudian mengubah seluruh sisi kehidupannya dan memberi dampak positif terhadap hadirin yang mendengarkannya. Lalu apa sebenarnya isi kuliahnya?
Randy menceritakan apa saja mimpi-mimpi masa kecilnya, mulai dari mendapatkan boneka beruang paling besar di pasar malam, menjadi salah satu designer animasi walt disney (walt disney imagineering) , merasakan berada di ruang hampa, menulis artikel untuk World Encyclopedia, bermain untuk NFL (National Football League), dan menjadi Captain Kirk dalam film Star Trek. Hebatnya, hamper semua mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan dengan keunikan caranya masing-masing.

Bagi sebagian orang, mungkin mimpi-mimpi itu hanyalah mimpi “kecil”. Tapi kemudian justru mimpi-mimpi itulah yang mengubah kehidupan Randy, menjadikannya manusia yang berbeda. Bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka, serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis.

“If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir hidupnya.

Kuliah terakhir Randy sangat fenomenal. Bukan karena yang menyampaikannya adalah seorang yang sedang sekarat akibat kanker, tapi karena apa yang disampaikannya benar-benar menginspirasi. Rekaman kuliah terakhir ini dengan cepat beredar di youtube , kemudian juga dibukukan. Dan telah menginspirasi banyak orang yang menonton ataupun membaca bukunya.

Randy sendiri merekam kuliah terakhirnya tersebut bukan untuk sebuah kenangan semata-mata. Tetapi untuk ketiga anaknya, Dylan (6 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (18 bulan). Randy sangat tahu bahwa kelak, ketiga anak-anaknya mungkin tidak akan ingat dengan jelas seperti apa sosok ayahnya. Mereka hanya akan mengenal ayahnya melalui foto dan cerita. Yang diinginkan Randi adalah agar kelak anak-anaknya bukan hanya mengenangnya (melalui rekaman kuliah terakhir itu), tapi juga yakin bahwa ayah mereka selalu mencintai mereka. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams”.

Rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.

Randy memberikan kuliah terakhirnya pada 18 September, 2007. Dan Jumat, 25 July 2008 yang lalu, Prof. Randy Pausch, akhirnya dikalahan oleh penyakitnya. Tetapi, Randy telah meninggalkan warisan yang besar, bukan hanya untuk anak-anaknya tetapi juga untuk semua orang yang mengenalnya (meski hanya melalui buku dan rekaman kuliah terakhirnya) , tentang bagaimana memaknai hidup dan kehidupan, bagaimana membuat mimpi menjadi nyata, dan pelajaran tentang harapan.

“Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall., …Experience is what you get when you didn’t get what you wanted” (Randy Pausch, 2007)

Popularity: 1% [?]